Wanita Karier Di Mataku

Sambil ngepel rumah barusan *upik abu dot com* aq mikir kayaknya pengen deh bisa santai-santai, pagi tidur sampe siangan, ga berhadapan dengan sejumlah pekerjaan rumah tangga yang makin lama makin membuat jenuh ..hikz.
Kepikiran pengen ambil asisten setelah selama ini menolak kerabat dan teman yang menawarkan jasa asisten. Tapi tiap mikir mau ambil asisten selalu aq dikembalikan pada kenyataan “OMG, betapa susahnya mencari asisten loyal saat sekarang”, yang ada setaun uda keluar, itupun kadang kita harus sedikit ngalah agar asisten betah. Aq ga menyukai keadaan seperti itu, apalagi dengan 3 anakku yang semuanya masih kecil, alangkah baiknya tidak terlalu sering berganti asisten yang kita sendiri tidak tau latar belakangnya dengan baik..
Akhirnya pikiranku makin ngelantur membayangkan seorang wanita karier..
Terbayang apa sebenernya yang mereka kejar menjadi seorang wanita karier, dan akhirnya aq menyimpulkan sendiri apa yang ada di benakku, dan tanpa maksud untuk melebihkan satu pilihan dengan pilihan yang lain aq mulai mengelompokkan para wanita karier ini.

Menurutku wanita karier terbagi 2 bagian besar:
1. Wanita karier yang masih singel
2. Wanita karier yang sudah menikah.

Wanita karier yang sudah menikah pun terbagi lagi:
1. Wanita karier yang sudah belum punya anak.
2. Wanita karier yang sudah punya anak.

Wanita karier yang sudah punya anak juga dikelompokkan lagi ke bagian yang lebih kecil:
1. Bekerja karena faktor kesenangan, alias ga bisa kalo ga punya rutinitas ngantor.
2. Bekerja karena faktor finansial

Wanita yang bekerja karena faktor finansial juga terbagi lagi:
1. Karena kondisi yang mengharuskan dia bekerja, karena tulang punggung keluarga.
2. Karena merasa pendapatan keluarga masih kurang kurang.

Yang merasa pendapatan masih kurang juga terbagi lagi:
1. Kurang mencukupi yang sesungguhnya.
2. Kurang mencukupi kebutuhan tersier

Belum sampe baca sini pasti da pada bosen…qqq…

Ok lah, gapapa ngomong sendiri :p

Berbicara tentang perempuan pada kelompok terakhir di point kedua (coz kelompok yang lain masih bisa kuterima) yaitu seorang perempuan yang sudah mempunyai anak dan suaminya sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, menurut saya (berarti subyektif, siapa pun boleh berseberangan) sebaiknya berhenti bekerja, kenapa?
Kalo kita berpikir bahwa dengan bekerja rejeki kita akan nambah, itu berarti kita ga percaya janji Allah, rejeki itu sudah diaturnya, dan tidak akan tertukar..
Tertukar di sini bukan dalam arti tertukar materi atau kesempatan, tapi tertukar dalam hal kuantitas..
Jadi pada saat ada orang yang mengalihkan rizki kita pada orang lain secara curang, yakinlah, bahwa semua itu akan Allah ganti walaupun dalam bentuk yang lain.
Dan seseorang yang dengan sengaja mengambil rejeki orang lain, maka akan ada rezki yang seharusnya dia dapat tapi akan Allah tarik dari tangannya..dan kita jangan lupa, rizki itu bukan hanya materi, tapi kebahagiaan, kesehatan itu juga rizki.
Hubby bercerita, bahwa saat sudah menikah, seandainya istri tidak bekerja maka rizki istri dan anak akan mengalir dalam 1 selang pendapatan suami..dalam penghasilan suami ada rizki istri dan anak ϑi dalamnya.
(Inget ya para bapak, bahwa gaji anda adalah juga rezki anak dan istri, jadi ga boleh medit….hehehe..)
Jadi kita ga usah mikir, wah, ntar kalo kita kerja kan penghasilan keluarga kita nambah, benar sekali, penghasilan dari sisi materi memang akan nambah, tapi kepikir gak sih, bahwa akan ada pengeluaran lebih juga, ato ada rizki lain yang dikorbankan?
Pengeluaran berlebih di sini saya melihat dari banyak contoh nyata, keluarga punya 3 anak kecil, dan harus bayar 3 baby sitter (berapa duit tuh cuma buat 3 baby sitter doang..heheh), dan banyak lagi lain yang harus dibayar dalam hal materi….contoh non materinya, kelelahan pergi pagi pulang sore, kesehatan yang bisa terganggu, ketenangan yang berkurang karena ada deadline dll, dan jangan lupa, ada satu lagi rezki yang Allah ambil yang jarang kita sadari dan ini bukan materi… Kebersamaan kita dengan anak-anak.
Terbayang gak kita pergi pagi, dan pulang sore, seberapa besar, seberapa banyak waktu kita untuk anak-anak..*ga kuat deh kalo dah ngomongin yang satu ini biarpun aq irt tulen* apa kita ga menyesal anak-anak akan tumbuh dengan kita tau hanya hasilnya tanpa prosesnya..? Aq sering ngomel sama anak-anak, tapi biar ngomel aq sangat mesra di lain waktu dengan 3 buah hatiku..ga jarang kami sering bercumbu-cumbu (istilahku kalo bermesraan dengan anak-anak), kontak mata sering aq lakukan, belaian, pelukan dan kecupan pun bukan sesuatu yang jarang kulakukan..*kayaknya malah doyan tuh* .. Dan aq sangat bersyukur dengan keadaan ini, yaitu bisa menikmati kebersamaan dengan anak-anak. Anak-anak ga akan kecil lagi, saat mereka beranjak besar betapa menyesalnya tidak merasakan masa kecil mereka seutuhnya.
Ini terasa sekali bedanya dengan hubby yang bekerja (bukan nyalahi hubby bekerja, hanya membandingkan bahwa aq yang lebih sering bersama anak-anak tau dan sangat tau sekali *hiperbola* kemana arah pembicaraan anak-anak.. Hal yang kadang diartikan hubby begini, tapi sebenernya aq tau anak bermaksud lain..kenapa bisa terjadi, karena aq yang selalu bersama mereka, aq yang bisa menjelaskan apa yang mereka rasa, mereka inginkan, mereka pikirkan, bahkan sebelum mereka cetuskan pun aq sudah tau, hanya dengan memperhatikan bahasa tubuh..itulah seorang ibu, ngomel tetep ngomel, tapi kondisi seperti ini hanya bisa tercapai oleh ibu yang tidak bekerja.

Seandainya dalam penulisan ini ada ulasan yang menyinggung mohon dimaafkan, karena ini hanya pemikiran sepihak saya, dari sudut pandang saya..

Love u Achmad, Fathimah dan Maryam… [6 Januari 2010]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s