Proses Terjadinya Aurora

Kalo bicara tentang Aurora, ini adalah keindahan alam pertama yang membuat saya jatuh cinta, padahal waktu itu kelas 1 SD loh, dan hanya melihat dari buku serial ilmu pengetahuan. Tapi sukaaaaaa banget dan merasa penasaran pengen liat langsung. Imajinasi mendadak ada di Alaska, duduk dengan damai memandang kecantikanmu Aurora…🙂

Image

Rasa penasaran tentang cahaya yang berpendar luar biasa indah di atmosfer ini membuat saya pengen menulis gimana sih sebenernya proses terjadinya Aurora itu..

Kita bahas dulu ya apa sih sebenernya aurora itu. Aurora adalah pancaran cahaya pada langit daerah lintang tinggi, sebagai akibat atas pembelokan partikel angin matahari oleh magnetosfer ke arah kutub, serta adanya reaksi dengan molekul-molekul atmosfer.

Matahari, disebut juga bintang merah yang menjadi pusat orbit planet-planet tata surya kita hanyalah satu di antara milyaran bintang lainnya di Galaksi Bimasakti. Pada inti pusatnya, matahari kita memiliki suhu 14 juta Kelvin dengan tekanan 100 milyar kali lipat tekanan atmosfer di bumi, ga kebayang panasnya ya temans. Cahaya yang dipancarkan matahari berasal dari reaksi fusi termonuklir yang terjadi pada inti bintang, hasil energinya dialirkan secara konveksi ke permukaan hingga tercipta medan magnet yang sangat kuat di permukaan matahari. Daerah-daerah medan magnet tersebut relatif gelap (artinya lebih dingin) dari pada sekitarnya, hingga dinamakan bintik matahari atau sunspot.

Sunspot  dianggap sebagai bendungan, ketika kekuatannya sudah tak sanggup lagi menahan tekanan arus, maka ia akan ‘jebol’. ‘Jebol’nya sunspot ini akan memuntahkan kandungan energi. Energi yang dilontaran keluar matahari ituah yang disebut sebagai angin matahari. Jika dengan intensitas yang besar maka dinamakan badai matahari.

Perjalanan angin matahari menuju bumi, dapat ditempuh selama 18 jam hingga 2 hari perjalanan antariksa. Ketika melewati Merkurius dan Venus, angin matahari akan langsung begitu saja menerpa atmosfernya, sehingga planet tersebut mengalami peningkatan suhu yang luar biasa akibat dari terpaan aliran proton dan elektron yang dibawanya. Tapi berbeda halnya ketika angin matahari itu menghantam bumi. Bumi ini seperti magnet yang berukuran sangat besar, dengan kutub-kutub magnetnya hampir berdekatan dengan kutub geografis bumi. Sehingga bumi ini dilapisi oleh medan magnet (magnetosfer) yang berbentuk sebuah perisai yang mirip dengan buah apel, di mana bumi berada pada inti buahnya dan magnetosfer berada pada kulit buah apel. Magnetosfer ini terdiri dari beberapa lapisan, dengan lapisan terbawahnya, sabuk radiasi Van Allen yang berada di sekitar ekuator (khatulistuwa). Seperti sebuah perisai, Magnetosfer dan Sabuk Van Allen melindungi bumi dari terpaan partikel angin matahari. Aiiihhh…cantiknya Allah ciptakan bumi ya. Semua bukan kebetulan loh :-p

Dari gambar di atas, angin matahari ditunjukkan pada garis kuning sedang medan magnet bumi ditunjukkan pada garis biru.

Ketika angin matahari menerpa magnetosfer, partikel-partikel angin matahari dibelokkan dan tertarik menuju kutub medan magnet bumi. Semakin tinggi energi partikel, maka semakin dalam lapisan magnetosfer yang berhasil ditembus olehnya. Aliran partikel yang tertarik ke kutub medan magnet bumi akan bertumbukan dengan atom-atom yang ada di atmosfer. Energi yang dilepaskan akibat reaksi dari proton dan elektron yang bersinggungan dengan atom-atom di atmosfer, dapat dilihat secara visual melalui pendar cahaya yang berwarna-warni di langit, inilah yang kita sebut sebagai Aurora. Di kutub utara bumi, aurora ini disebut sebagai Aurora Borealis, dan di kutub selatan, disebut sebagai Aurora Australis.

Reaksi antara partikel angin matahari dengan atmosfer bumi, menghasilkan berbagai macam warna pada aurora. Perbedaan warna ini dipengaruhi oleh jenis atom yang berinteraksi dengan proton dan elektron, coz pada ketinggian-ketinggian tertentu, jenis atom penyusun atmosfer tidaklah sama.Pada ketinggian di atas 300 km, partikel angin matahari akan bertumbukan dengan atom-atom Hidrogen sehingga terbentuk warna aurora kemerah-merahan. Semakin turun, yakni pada ketinggian 140 km, partikel angin matahari bereaksi dengan atom Oksigen yang membentuk cahaya aurora berwarna biru atau ungu. Sementara itu, pada ketinggian 100 km proton dan elektron bersinggungan dengan atom Oksigen dan Nitrogen sehingga aurora tervisualisasikan dengan warna hijau dan merah muda.  

Luar biasa banget ya proses terjadinya Aurora, prosesnya begitu panjang untuk bisa kita nikmati di bumi, di mana badai dari tempat yang jauh (baca:matahari) yang seharusnya bisa mengacaukan kehidupan di bumi, justru Allah jadikan ia sebuah keindahan untuk kita. Sekali lagi, karena Allah ciptakan bumi itu untuk manusia, bukan sebuah kebetulan.🙂

Kalo pengen melihat keelokan aurora secara langsung, kamu bisa berkunjung ke daerah-daerah lintang tinggi, seperti Kanada, New Zeland, Antartika, dll. Ketika aktivitas matahari dalam keadaan stabil, frekuensi terbentuknya aurora lebih sering pada bulan-bulan ekuinoks. (ekuinoks musim semi jatuh pada tanggal 23 Maret, dan ekuinoks musim gugur adalah tanggal 21 September). Tapi kalau aktivitas matahari meningkat, sehingga intensitas angin matahari tinggi,  cahaya aurora pun akan terbentuk semakin terang.

Suatu hari saya akan melihatmu Aurora Borealis…

Sumber :  http://www.kafeastronomi.com/aurora-dan-proses-terjadinya.html

2 thoughts on “Proses Terjadinya Aurora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s