Jangan Hakimi Aku

Image

Kenapa ya orang suka menyalahkan orang lain berdasarkan versi kehidupannya sendiri? Melihat dari sudut pandangnya sendiri atas ‘kesalahan’ orang lain. Pernah gak berpikir dalam, merenungi kenapa seseorang bisa berlaku seperti itu? Termasuk yang ekstrim, misalnya seorang pembunuh.

Manusia itu punya sifat dasar, yang memang dibawa sejak lahir. Ada yang membawa sifat sabar, ada juga yang tidak sabar, ada yang ceria ada yang pendiam, ada yang peka ada  juga yang tidak, dan banyak sifat lainnya. Dan sifat ini ga bisa dibuat-buat, pasti keliatan. Jadi bukan semata-mata karena bayi lahir fitrah, trus bisa sama ratakan sifat dan pilihan sikapnya. Kondisi psikis kehamilan sang ibu juga mempunyai andil dalam psikis anaknya kelak. Itu pun tidak sepenuhnya, masih ada faktor lain yang mempengaruhi. Pernah gak liat sepasang suami istri, punya beberapa anak, diperlakukan sama, tapi ‘hasilnya’ beda? Ada yang nuruni sifat pemarah (misalnya) ayah, tapi yang lain nuruni sabar si ibu.

Banyak hal yang bisa membentuk sifat dan pada akhirnya sikap manusia. Secara garis besar terbagi 2, yaitu bawaan dan lingkungan, dan keduanya bekerja sama sangat erat membentuk watak manusia.

Contohnya, ada orang yang punya mood swing ekstrim, perubahan mood-nya terjadi begitu ekstrim dari mood high (suasana hati baik) ke mood low  (suasana hati buruk). Dan itu bawaan, pantaskah manusia yang dikaruniakan rizqi kesabaran men-judge mereka yang bahkan untuk mengontrol mood-nya saja susah? Yang benar adalah bukan mencela, menjauh, menghakimi mereka salah, tapi didekati, bila mampu kita arahkan, bila tidak mampu jangan dihakimi, cukup adil kan?

Pernah dengar gak salah satu jenis penyakit psikis yang membuat seseorang bisa berbuat ekstrim di luar batas normal manusia. Dan itu di luar keinginannya, karena di saat normal penderita akan bertingkah biasa bahkan sangat penyayang. Penyakit kejiwaan akibat terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak ini disebut Bipolar.
Otak sebagai organ yang berfungsi menghantarkan rangsang, membutuhkan neurotransmitter (saraf pembawa pesan atau isyarat dari otak ke bagian tubuh lainnya) dalam menjalankan tugasnya. Norepinephrin, Dopamine, dan Serotonin adalah beberapa jenis neurotransmitter yang penting dalam penghantaran impuls syaraf. Pada penderita bipolar disorder, cairan-cairan kimia tersebut berada dalam keadaan yang tidak seimbang.
Ketika seorang pengidap bipolar disorder dengan kadar Dopamine yang tinggi dalam otaknya, penderita akan merasa sangat bersemangat, agresif, dan percaya diri. Jika berada dalam kondisi sebaliknya, disebut dengan fase depresi yaitu ketika kadar cairan kimia utama otak itu menurun di bawah normal, sehingga penderita merasa tidak bersemangat, pesimis, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri yang besar. Ini hanya salah satu contoh penyakit kejiwaan yang sangat berpengaruh dalam hubungan sosial penderita, sekali lagi,  pantaskah manusia yang dikaruniai keadaan jiwa yang lebih terkontrol,  menyalahkan seseorang tanpa berempati terhadap latar belakang orang lain berbuat ‘salah’?

Pernah kenal dengan seorang pengidap bipolar, sangat mengesalkan memang, tapi dia sendiri mengakui, “Aku sendiri ga pengen begini, tapi saat terpancing, aku ga bisa mengendalikannya”😦

Baru ketauan bahwa dia pengidap bipolar setelah datang ke psikiater. Dalam kasus ini, apa kita pantas nyalahi semua keburukan yang dia lakukan, emosinya yang meledak-ledak saat marah dan sungguh sangat mengesalkan, tapi di lain waktu menyaksikan kelembutan dan manjanya. Yang ada kini hanya rasa iba, sedih melihat betapa inginnya dia menjadi orang yang normal. Apalagi dokter telah mem-vonis bipolar-nya ga bisa disembuhkan karena bawaan lahir. Bisa diredam dengan tidak adanya pemicu, tapi mana mungkin dia bisa mengatur pemicunya nol karena dalam hidup pun dia akan bertemu banyak manusia yang akan menjadi pemicu kambuhnya bipolar. Perjuangannya menjadi orang ‘baik’ pastinya ga semudah orang lain yang memang uda dikaruniai sifat bawaan sabar.  Obat terbaik adalah ekstra menguatkan ibadah,  iman, cuma itu.

Bahkan seorang pembunuh yang jelas memang ‘salah’, tetaplah ga bole kita hakimi. Hanya Allah hakim yang sesungguhnya. Kita boleh menyalahkan tindakan salah yang dilakukan orang, tanpa perlu menghakimi pelakunya berdasarkan sudut pandang kita. Dan yang saya pernah dengar, seorang yang bisa keji membunuh pun mempunyai kelainan dalam genetiknya. Apa dia minta dilahirkan sebagai orang yang punya kelainan itu?😦

Dan itu tentu bukan orang yang membunuh karena kepepet. Kalau pun membunuh karena kepepet, bisa gak kita juga pelajari latarnya kenapa dia lakukan itu. Kalo alasannya uang, bisa gak kita ikuti motifnya juga kenapa dia perlu uang, kalo motifnya tidak baik, bisa gak kita telusuri kenapa dia pakai uang  buat hal tidak baik itu, dan seterusnya. Hingga sampai suatu titik kita bisa mengerti alasan dibalik hal buruk yang dilakukan seseorang. Tanpa maksud membela orang-orang yang melakukan tindakan yang disebut salah, melainkan hanya berusaha berada di posisi manusia yang masih teramat banyak kesalahan.

Biarlah Allah saja yang jadi hakim maha adil manusia.

Photo : http://www.tumblr.com/tagged/walk%20in%20my%20shoes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s